GRESIk, Senin 25 Mei 2026 – Inforekamjejak.co.id
Aula Balai Desa Dadapkuning pagi itu dipenuhi tawa dan sapaan akrab. Bukan rapat formal, bukan acara besar bertabur tamu. Yang hadir adalah para lansia desa, berkumpul dalam kegiatan rutin yang jadi bukti nyata bahwa usia tak pernah memadamkan semangat kebersamaan.
Di bawah koordinasi perangkat desa dan kader posyandu, puluhan bapak-ibu sepuh duduk bersama. Ada yang datang diantar cucu, ada yang jalan kaki pelan-pelan sambil menyapa tetangga di sepanjang jalan. Suasana kekeluargaan langsung terasa begitu pintu aula dibuka.
Gotong Royong yang Hidup di Usia Senja
Kegiatan dimulai dengan senam ringan, dilanjut cek kesehatan gratis dari tim Puskesmas. Tak ada yang terburu-buru. Setiap langkah senam diikuti dengan semangat, setiap hasil pemeriksaan ditanggapi dengan cerita dan canda.
"Ini bukan sekadar cek kesehatan. Ini ruang kami merasa masih dibutuhkan, masih punya tempat di desa ini," ujar salah satu peserta, Mbah Suminah, 72 tahun, sambil tersenyum.
Kepala Desa Dadapkuning yang turut hadir menyampaikan apresiasi. Menurutnya, kegiatan lansia ini adalah cerminan nilai gotong royong yang masih hidup kuat di desa.
"Kalau lansia kita sehat, aktif, dan merasa dihargai, itu artinya desa kita sehat. Mereka adalah sejarah hidup Dadapkuning. Tugas kita adalah memastikan mereka tidak merasa sendiri," ujarnya.
Desa yang Merawat Warganya
Selain pemeriksaan kesehatan, pertemuan ini juga jadi ajang berbagi informasi program desa, pembagian bantuan sosial, dan diskusi ringan tentang kebutuhan warga lanjut usia. Yang menarik, semua disiapkan dengan gotong royong warga muda yang dengan sukarela membantu menata kursi, menyiapkan konsumsi, dan menemani para lansia.
Pemandangan sederhana ini jadi pengingat: kekuatan Desa Dadapkuning bukan hanya di sawah dan infrastruktur, tapi di cara warganya merawat satu sama lain.
Acara ditutup dengan makan siang bersama. Tak ada sekat antara perangkat desa, kader, dan warga. Semua makan di tempat yang sama, berbincang tanpa formalitas.
Hari Senin 25 Mei di Aula Balai Desa Dadapkuning mungkin tak tercatat di kalender nasional. Tapi bagi warga di sana, hari itu adalah bukti bahwa desa yang maju adalah desa yang tidak melupakan warganya yang paling senior.
(Rayap)

Komentar